7 Maret 2012 - 19:02
Kode berita: 301202
"Konflik menjadi terbuka di Pakistan dalam tahun 80-an setelah kemenangan Revolusi Islam Iran 1979. Revolusi Islam Iran yang membawa pesan persatuan Islam kepada seluruh dunia, menjadi pemicu bermunculannya kelompok-kelompok teroris. AS tidak akan pernah memberi izin kepada umat Islam untuk bersatu, karena itu konflik-konflik mereka rekayasa dalam tubuh umat Islam, sehingga persatuan yang didambakan kaum muslimin tersebut menjauh dan tidak terjadi."
Menurut Kantor Berita ABNA, Hujjatul Islam Wal Muslimin Husaini Arif Selasa siang (6/3) dalam penyelenggaraan Seminar 'Syuhada Ruhani Wahdat Islami' yang diselenggarakan oleh Kantor Berita ABNA bekerjasama dengan beberapa yayasan di Qom Iran telah menceritakan hal-hal yang melatari terjadinya tindakan kekerasan dan teror bagi warga Syiah di Pakistan.
Sambil mengucapkan terima kasih kepada para hadirin yang menyempatkan diri hadir dalam seminar tersebut, beliau berkata, "Pakistan telah merdeka dari India sejak tahun 1947 dibawah kepemimpinan Muhammad Ali Jinnah seorang muslim Syiah dari Negara tersebut."
Pimpinan Kantor Berita ABNA tersebut lebih lanjut berkata, "Sejak kemerdekaan Pakistan sampai saat ini, pengikut Syiah di Negara tersebut tidak pernah terpisah dari keseluruhan masyarakat Pakistan, mereka bagian dari Pakistan yang tidak pernah terpisah dari Negara tersebut. Bertahun-tahun mereka hidup bersosial satu sama lain, saling menikahkan antara mereka. Hal tersebut menunjukkan sunni-syiah bisa hidup harmonis dan berdampingan tanpa memunculkan persoalan-persoalan yang dipicu oleh perbedaan mazhab."
Mengenai peristiwa pertama yang memicu konflik sektarian yang terjadi di Pakistan, beliau menyatakan, "Peristiwa pertama yang terjadi di Pakistan mungkin boleh dikatakan berlatarkan seperti hari ini, yaitu pada tahun 1960 di Universitas Lahore terjadi pembunuhan seorang mahasiswa yang kebetulan pengikut Syiah yang kemudian berlarut-larut dan membesar menjadi konflik sunni-syiah di Negara tersebut.
"Kematian mahasiswa Syiah di Universitas Lahore tersebut memancing mahasiswa Syiah seluruh Pakistan mendeklarasikan sebuah kelompok yang mereka beri nama, Persatuan Mahasiswa Syiah, yang bertujuan untuk mempertahankan hak-hak Syiah sebagai warga Negara yang berhak diperlakukan adil. Keberadaan organisasi tersebut juga dimaksudkan untuk mengurangi perselisihan-perselisihan yang ditimbulkan karena perbedaan mazhab." Lanjutnya.
Pimpinan Kantor Berita Majma' Ahlul Bait tersebut menceritakan, "Hingga tahun 1980, kita tidak melihat adanya konflik yang dipicu alasan perbedaan mazhab. Namun sejak tahun 1982 teror-teror kepada penganut mazhab yang berbeda sudah mulai bermunculan, yang dipelopori oleh kelompok radikal Sepah-e-Sahaba (tentara sahabat). Tercatat sejak tahun 1985 kelompok teroris tersebut sampai saat ini masih juga melumuri tangan mereka dengan darah kaum muslimin, baik Sunni maupun Syiah."
Beliau menambahkan, "Konflik menjadi terbuka di Pakistan dalam tahun 80-an setelah kemenangan Revolusi Islam Iran 1979. Revolusi Islam Iran yang membawa pesan persatuan Islam kepada seluruh dunia, menjadi pemicu bermunculannya kelompok-kelompok teroris. AS tidak akan pernah memberi izin kepada umat Islam untuk bersatu, karena itu konflik-konflik mereka rekayasa dalam tubuh umat Islam, sehingga persatuan yang didambakan kaum muslimin tersebut menjauh dan tidak terjadi."
Hujjatul Islam Husain Arif menceritakan dalam berbagai operasi militer kelompok Sepah-e-Sahaba telah merenggut nyawa banyak orang. "Tahun lalu saja 291 warga Syiah Pakistan terbunuh dalam berbagai aksi teror mereka di mana 123 orang meninggal oleh ledakan bom dan 168 lainnya meninggal oleh tembakan spionase maupun serangan bersenjata secara terbuka." Paparnya.
Pengarah ABNA dalam bahagian ucapannya yang lain pula mendedahkan bahawa keganasan di Pakistan tidak hanya dilakukan oleh kumpulan Sepah-e-Sahaba sahaja. Menurut beliau, "Beberapa kumpulan pengganas di Pakistan dilindungi oleh Amerika, Israel dan pertubuhan-pertubuhan keselamatan yang diupah mereka aktif di rantau itu."
Selain itu beliau menceritakan apa yang terjadi di Parachinar, "Parachinar adalah wilayah berpenduduk mayoritas Syiah, dan konflik baru di wilayah ini bermula pada tahun 2007 akibat penghinaan kelompok teroris terhadap Imam Husain dan penyelenggaraan upacara duka Muharram".
Hujjatul Islam Husaini Arif menambahkan, "Sejak tahun 2007 sampai saat ini, sudah 5 tahun lebih warga Parachinar terisolir. Meskipun telah berkali terjadi beberapa gencatan senjata namun pada kenyataannya, kawasan tersebut tidak pernah aman."
Pimpinan ABNA tersebut mengkritik pemerintah Pakistan dengan mengatakan, "Pemerintah Pakistan turut bertanggungjawab atas terjadinya berbagai aksi teror yang merenggut ratusan nyawa tersebut. Sayangnya, pemerintah Pakistan tidak ubahnya upahan Barat yang bekerjasama dengan kelompok teroris. 1600 nyawa melayang di Parachinar tidak membuat pemerintah Pakistan turun tangan untuk menghentikan atau mencegah aksi-aksi biadab tersebut."
Hujjatul Islam Husain Arif berkata, "Ketakutan terhadap wacana persatuan Islam yang didengungkan revolusi Islam Iran, berubah menjadi ketakutan terhadap ideologi Syiah. Berbagai macam cara dilakukan musuh-musuh Islam untuk menghancurkan dan menyingkirkan Syiah. Termasuk dengan menebar teror dan melakukan pembantaian berdarah."
Beliau menegaskan bahawa Syiah mampu melakukan perubahan dalam negara tersebut, "30 juta Syiah di Pakistan telah bertekad melakukan perubahan di Negara tersebut, agar keadilan bisa ditegakkan."
Di akhir pembicaraan, beliau mengingatkan mengenai Al-Quran yang mengajarkan umat Islam untuk mengagungkan dan membesarkan kedudukan para syuhada. "Untuk kepentingan mengagungkan syuhadalah acara ini diadakan." Tutupnya.